Kiat Relaktasi, Menyusui Kembali Setelah Sempat Terhenti

Kiat Relaktasi, Menyusui Kembali Setelah Sempat Terhenti

CARA RELAKTASI – Siapa sih ibu yang tidak ingin menyusui hingga usia anak dua tahun?

Setiap ibu sepertinya ingin menuntaskannya. Akan tetapi, tidak semua bisa tuntas dua tahun karena berbagai hal.

Atau di tengah perjalanan terpaksa berhenti karena si ibu sakit, ibu bekerja, ASI mengering, atau karena ibu menjalani perawatan intensif sehingga tidak dapat menyusui.

Faktor lingkungan juga bisa lho membuat ASI terhenti dan membuat ibu enggan menyusui.

Misal karena tidak ada dukungan dari keluarga, minimnya pengetahuan tentang ASI, dan faktor tekanan dari keluarga atau lingkungan terkait mitos seputar menyusui.

Nah, hal yang remeh seperti itu rupanya dapat menjadi penyebab kegagalan menyusui, karena produksi ASI berkurang.

Minimnya pengetahuan juga bisa menjadi penyebab produksi ASI menurun, sampai pada terhentinya pemberian ASI.

Manfaat Memberikan ASI

Jika pada kondisi ibu sehat dan normal, menyusui bukan hanya memberikan hak anak.  Akan tetapi, juga berguna untuk kesehatan si ibu sendiri.

Idealnya ASI diberikan kepada anak sampai usia dua tahun. Badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) pun merekomendasikan empat unsur optimal feeding.

Pertama inisiasi menyusui setelah bayi lahir, memberikan ASI ekslusif sampai usia enam bulan, memberikan makanan pendamping ASI sesuai dengan tahapan usia dan bergizi, dan menyusui sampai anak berusia dua tahun.

Jika paket tersebut lengkap diberikan akan membuat si anak lebih sehat hingga dewasa.

Namun tidak sedikit  proses menyusui itu terhenti karena berbagai faktor.

Misal siibu sakit atau karena faktor si anak yang sudah enggan menyusu.  Ayah dan ibu bekerjasama agar anak mau menyusui dan ibu tidak berputus asa ketika anak rewel atau ASI tidak keluar.

Menyusui bukan hanya memberi manfaat kepada si bayi. Akan tetapi juga berpengaruh pada kesehatan ibu, antara lain menghindari kurang darah atau pendarahan setelah melahirkan berikutnya.

Memberikan ASI kepada bayi juga bisa mengurangi risiko kanker payudara. Selain itu juga mengurangi risiko kanker yang lazim terjadi pada perempuan seperti kanker indung telur dan kanker rahim.

Selain itu menyusui juga dapat melindungi ibu dari penyakit lain seperti keropos tulang, jantung koroner, alzheimer, diabetes, hypertensi, dan stress.

Hubungan antara ibu dan anak yang dibangun dari menyusui diyakini juga dapat menghindarkan tindakan penelantaran anak oleh ibu dan juga tindak kekerasan.

Sementara untuk anak, juga dapat melindungi dari penyakit radang saluran nafas atau pneumonia, mencret, kurang gizi, kurang vitamin, kencing manis, risiko kanker pada anak seperti leukimia dan kanker otak.

Selain itu juga dapat melindungi anak dari alergi, asma, dan penyakit menahun seperti radang usus besar.

Penyebab Terhentinya Pemberian ASI

Ada beberapa penyebab terhentinya ASI untuk sementara, antara lain:

 

  • Ibu Menderita Sakit

 

Destiana, seorang ibu muda dengan anak berusia belum genap enam bulan divonis dokter terkena TBC.

Bukan hanya aktivitas menyusui, akan tetapi dia juga tidak diperkenankan bertemu anaknya untuk sementara waktu  karena dikhawatirkan menular.

Apa boleh buat, Desti yang awalnya merasa sedih karena tidak bisa memberikan hak anak harus mengalah.

Selama masa pengobatan, Desti hanya melihat anaknya dari jauh. Efek dari obat-obatan yang diberikan dokter bisa berpengaruh pada si kecil.

Desti harus berjuang dan menyambung kembali ASI yang terputus setelah pengobatan selesai. Desti adalah salah satu contoh, ibu yang terhenti menyusui karena menderita sakit.

Atau kondisi lain ketika si ibu harus menjalani rawat inap. Pada kondisi tertentu si ibu tidak diperkenankan menyusui sementara sampai benar-benar sembuh.

Namun ada juga kondisi ibu yang memungkinkan untuk memberikan ASI.

 

  • Ibu Bekerja

 

Penyebab lain terhentinya pemberian ASI karena si ibu sibuk bekerja.

Tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama terhadap pemberian ASI. Ada ibu yang bekerja kemudian menghentikan pemberian ASI dan menyambungnya dengan susu formula.

Namun di kemudian hari dia mendapat pengetahuan tentang pemberian ASI dan berkeinginan untuk memberikan kembali ASI pada anak.

  • ASI yang Tidak Keluar atau Produksi ASI Sedikit

Setiap perempuan memiliki kondisi yang berbeda, termasuk banyak sedikitnya produksi ASI. Itu sebabnya dukungan dari lingkungan termasuk suami dan keluarga dibutuhkan untuk kelancaran ASI ibu.

Selain itu, juga konsumsi makanan yang bergizi dan asupan lainnya juga diberikan untuk kelancaran ASI.

Tekanan dari pihak luar untuk mengkonsumsi beragam makanan, mitors seputar menyusui, dan saran untuk memberikan susu formula sangat berpengaruh pada produksi ASI.

Itu sebabnya ibu menyusui sebaiknya berada pada lingkungan yang kondusif dan mendukung gerakan ASI eksklusif.  

Tiga hal di atas paling sering terjadi di masyarakat.  Ada yang kemudian berputus asa dan memilih untuk memberikan susu formula kepada bayi.

Ada pula yang kemudian bersemangat untuk menyusui kembali. Nah, mennyusui kembali setelah terhenti sementara ini disebut relaktasi.

Sebetulnya relaktasi ini tidaklah terlampau sulit. Paling penting adalah keinginan kuat dari si ibu untuk dapat menyusui anaknya kembali.

Untuk ibu muda pasti seringkali bingung, alternatif lain yang bisa dilakukan ketika relaktasi adalah berkonsultasi dengan konselor ASI.

Atau berdiskusi dengan ibu muda lain yang pernah mengalami hal serupa.

Selain itu bisa juga dengan membaca buku atau referensi terkait relaktasi.  Hal terpenting adalahh pikiran yang rileks dan dukungan dari lingkungan sekitar.

Jika terhentinya ASI karena sakit, pastikan dulu bahwa bisa menyusui kembali.

Jika berhenti menyusui karena pekerjaan, maka bisa berkomitmen dengan diri sendiri bahwa kali ini harus berhasil menyusui dan mensugesti diri bahwa bisa memberikan hak ASI kepada anak sampai usia dua tahun.

Persiapkan Hal Ini Sebelum Relaktasi

Butuh teknik khusus agar produksi ASI bisa kembali lancar setelah sempat berhenti.  

Pertama bisa dengan menstimulasi payudara dengan cara dipompa atau diperas. Kemudian mengajarkan atau memperkenalkan kembali sang anak cara menyusu langsung di payudara ibu.

Selain itu, ada hal lain yang harus dilakukan yaitu persiapan mental.

Meski sudah pernah menyusui, relaktasi ini ibaratnya mengulang kembali dari awal.

Apalagi jika alasan berhenti adalah persoalan psikologis, seperti tekanan dari pihak luar. Itu sebabnya dukungan dari suami dan juga  lingkungan sekitar memiliki peran besar untuk kesuksesan relaktasi.

Bayi yang sempat berhenti menyusu butuh adaptasi ketika harus menyusu langsung pada payudara.

Sangat mungkin si bayi akan menolak dan menangis, karena ASI yang diminum tidaklah banyak.  

Apalagi ketika si bayi sudah familiar dengan dot dan merasa asing dengan puting.

Oleh karena itu, mintalah dukungan mental dari orang-orang terdekat. Anda juga bisa berkonsultasi dengan konselor ASI, teman atau kerabat yang pernah berhasil melakukan relakatasi.

Selain itu membaca literatur terkait menyusui.

Memotivasi diri sendiri itu menjadi poin utama dalam relaktasi. Percaya diri bahwa akan berhasil menyusui setelah sepat libur.

Fokus pada tujuan dan masa depan si bayi. Pada awalnya mungkin sulit, akan tetapi percayalah hasil yang didapat pasti akan memuaskan.  

Kepercayaan diri itu akan membantu menstimulus diri sendiri dan produksi ASI kembali lancar.

Ayo Mulai Relaktasi

Selain persiapan mental, ada juga hal-hal yang harus dilakukan, antara lain:

1. Konsumsi Makanan Bergizi

Apa yang kita konsumsi secara tidak langsung juga dikonsumsi oleh anak. Itu sebabnya mulailah mengkonsumsi makanan bergizi.

Caranya dengan meningkatkan konsumsi protein dan rutin mengkonsumsi air putih.  Kurangi minuman yang mengandung kafein dan berpengawet.

Selain itu juga mengkonsumsi makanan yang bisa menstimulus produksi ASI.

2. Konsumsi Vitamin

Sebelum relaktasi, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter. Lalu mintalah vitamin yang bisa membantu menambah produksi ASI.

Jika ada yang menyarankan mengkonsumsi jamu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Kandungan yang terdapat pada tanaman herbal, belum tentu cocok untuk bayi dan bisa menyebabkan bayi mengalami diare atau sakit.  

3. Banyak Beristirahat

Selain konsumsi makanan bergizi, ibu yang akan melakukan relaktasi sebaiknya wajib menjaga stamina tubuhnya.

Jangan terlalu capek, tidur cukup, dan banyak beristirahat. Jika bisa pekerjaan rumah mulai didelegasikan, ibu butuh waktu khusus bersama bayi di awal-awal masa relaktasi.

Pasalnya masa awal relaktasi tidak dapat diprediksi. Bisa hanya dalam beberapa hari, bahkan bisa berminggu-minggu.  

Anda juga harus mengurangi kegiatan di luar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama bayi.

4. PDKT dengan Si Bayi

Setelah tidak menyusui, apalagi jika dikarenakan si ibu sakit otomatis akan ada ‘jarak’ antara ibu dengan bayi.

Mulailah dekati kembali si kecil dengan cara meningkatkan frekuensi skin to skin contact.

Tidur bersama dan sering memeluk adalah cara yang efektif dan manjur dilakukan.

Ketika bersamanya, ajaklah dia bicara dan kattakan kalau Anda sayang dan ingin memberikan yang terbaik untuknya.  

Sering-seringlah memandikan, menidurkan, mengganti popok, dan mengajaknya bermain dan bicara.

5. Berlatih Menyusui Sebelum Mulai Relaktasi

Anda bisa melatih si bayi menyusu dengan cara memposisikanya pada payudara. Anda bisa mencoba beberapa posisi yang paling nyaman bagi Anda dan bayi ketika mulai menyusui.  

Kunci pokok dalam relaktasi adalah membiarkan si bayi sering menyusu. Kendati ASI yang keluar masih sedikit, namun sering-seringlah memberikan ASI kepada bayi.

Paling tidak dalam sehari 10-12 kali menyusu atau setiap kali si bayi menginginkannya. Selain itu biarkan si bayi menghisap payudara minimal 30 menit setiap kali menyusu.

Lalu secara bertahap dapat ditingkatkan frekuensinya.

6. Tidurlah Bersama Si Bayi

Terutama ketika malam hari karena saat itu adalah waktu hormon prolaktin (penghasil ASI) diproduksi.

Jumlah produksi ASI dalam masa relaktasi tidaklah berbanding lurus dengan lamanya berhenti.  

Memang bayi yang berhenti menyusu sebentar produksi ASI bisa lebh cepat. Namun bukan berarti jika berhenti dalam hitungan bulan, lalu produksi ASI juga lancar dalam waktu yang sama.

Relaktasi bisa dilakukan sepanjang si bayi masih berhak mendapatkan ASI.

Hanya saja akan lebih mudah dilakukan jika si bayi berusia kurang dari 6 bulan.

Berapa Lama Relaktasi?

Sampai ASI bisa keluar bervariasi pada setiap orang. Ada yang bisa dalam waktu singkat, ada pula yang butuh waktu agak lama agar produksi ASI terus meningkat.

Memberikan ASI berapapun jumlahnya akan lebih baik ketimbang tidak memberikan ASI sama sekali.

Ibu juga harus menjauhkan pikiran negatif terutama yang terkait dengan menyusui. Termasuk ketakutan jika produksi ASI tidak bisa sebanyak sebelum berhenti.

Berpikirlah positif jangan hanya berpikir, ”Duh produksi ASI saya sangat sedikit”.

Untuk adaptasi, ada baiknya mulai mengurangi asupan susu formula pada bayi secara bertahap.

Anda bisa mengukur berapa produksi ASI dalam sehari, lalu setelah itu coba kurangi takaran susu formula sesuai dengan jumlah produksi ASI Anda.  

Selain itu kurangi juga frekuensi penggunaan dot bayi. Ibu bisa menggantinya dengan cangkir kecil atau sendok.

Susu formula dapat diberikan jika bayi enggan menyusu karena ASI belum keluar. Anda harus mengetahui apakah ASI sudah keluar atau belum, jangan sampai si bayi kekurangan nutris.

Asupan nutrisi pada bayi bisa dilihat dari frekuensi buang air kecil paling tidak 5 kali dalam sehari. Selain itu bayi juga mengalami kenaikan berat badan dalam sebulan.

Makanan Bergizi Booster Alami ASI

Selain dukungan dari keluarga, berpikir positif, PDKT pada bayi hal yang penting untuk dilakoni adalah menjaga asupan makanan.

Apa yang ibu makan, otomatis juga akan dikonsumsi oleh bayi, Itu sebabnya ibu harus menjaga asupan makanan yang dia konsumsi.

Selain itu ibu juga butuh mengkonsumsi makanan yang bisa menambah atau menstimulus produksi ASI.

Makanan bergizi atau istilahnya booster alami sangat diperlukan untuk memperlancar ASI.

Makanan pelancar ASI mengandung senyawa galaktogogus yang berfungsi untuk merangsang produksi ASI. Alami dan sehat, ibu bisa mengolahnya sendiri di rumah.

Selain sehat tentu saja murah dan aman jika dibanding booster yang mengandung zat kimia.

Berikut ini makanan yang bisa menstimulus produksi ASI.

 

  • Beras Merah

 

Selain mengandung senyawa galaktogogus, beras merah juga sangat dianjurkan untuk perawatan setelah melahirkan.

Beras merah juga mengandung zat yang membuat rileks sehingga istirahat lebih berkualitas. Tentu saja beras merah mampu menjaga kadar gula darah dalam tubuh.

 

  • Bayam

 

Sayuran hijau yang satu ini kaya manfaat karena mengandung zat besi, kalsium, dan asam folat.

Selain itu bayam juga mengandung senyawa antikanker payudara dan senyawa detoks.

Namun perlu diketahui, konsumsilah sayuran ini dengan seimbang. Konsumsi yang berlebihan dikhawatirkan dapat menyebabkan diare pada bayi.

 

  • Ikan Salmon

 

Ikan salmon mengandung  Essensial Fatty Acid (EFA) dan Omega-3 yang sangat bagus untuk ibu menyusui.

Selain itu dapat meningkatkan hormon laktasi dan membuat produksi ASI lebih berkualitas.

Cara mengkonsumsinya pun mudah bisa dengan merebus, mengukus, atau memanggangnya.

 

  • Wortel

 

Wortel mengandung vitamin A yang sangat penting dalam produksi dan meningkatkan kualitas ASI.

Cara konsumsinya bisa dengan membuat jus wortel setiap pagi atau memasaknya sebagai sop atau hanya mengukusnya saja.

 

  • Daun Katuk

 

Daun katuk adalah resep turun temurun untuk memperlancar ASI. Daun katuk mengandung laktagagum dan prolaktin tinggi sehingga dapat memperlancar ASI.

Untuk mengkonsumsinya bisa dengan merebus dan disantap sebagai lalapan. Selain itu juga bisa untuk mencegah osteoporosis karena mengandung kalsium, zat bsi, dan potasium.

Daun katuk juga bisa untuk menjaga kondisi tubuh yang lemah pasca melahirkan.

Apalagi untuk ibu yang berhenti menyusui karena sakit, butuh booster untuk menjaga imun tubuh. Apalagi jika si bayi rentan tertular melalui ASI.  

Makanan-makanan booster alami ASI tersebut sebaiknya rutin dikonsumsi. Selama relaktasi sebaiknya menghindari makanan berpengawet dan junk food.

Happy breastfeeding.