Begini Tips Sukses ASI Eksklusif untuk Ibu Menyusui yang Bekerja?

Begini Tips Sukses ASI Eksklusif untuk Ibu Menyusui yang Bekerja?

SUKSES ASI EKSKLUSIF IBU BEKERJA – Salah satu kegalauan ibu bekerja ketika cuti melahirkan habis adalah, ”Bagaimana bisa memenuhi kebutuhan asi untuk si kecil”.

Sebagian besar para ibu tersebut memerah susu dan menyimpannya di lemari es.

Namun seringkali muncul masalah baru, seperti hasil memerah yang tidak banyak atau si bayi tidak mau minum asi menggunakan botol minum.

Pertanyaan lain yang sering dialami adalah, ”Apakah bisa saya bekerja sembari menyusui?”

Jawabannya, “Bisa”.

Semakin galau ketika harus dihadapkan oleh omongan keluarga yang menyarankan untuk memberi susu formula, namun di sisi lain ada keinginan kuat untuk memberikan ASI eksklusif bahkan sampai lulus S3 ASI di usia dua tahun.

Setiap perempuan yang menjadi ibu pastilah punya cara sendiri untuk menyusui si kecil.

Ibu yang bekerja di luar rumah memang harus mengatur waktu untuk memerah ASI sebagai stok ketika pergi bekerja.

Jangan sampai si kecil mengalani dehidrasi atau ASI tidak lagi kayak konsumsi. Dengan demikian penyimpanannya pun harus diperhatikan, agar tetap layak dikonsumsi.

Bagi ibu rumah tangga, mungkin hal ini tidak jadi persoalan.

Namun bukan  berarti tidak menyimpan stok ASI. Ibu rumah tangga bukan berarti selalu ada di rumah kan?

Sekali waktu pasti ada keperluan di luar rumah yang tidak memungkinkan untuk membawa si kecil. Meski ibu rumah tangga perlu lho, untuk memerah ASI untuk stok.

Sebelum membahas bagaimana tips menyusui untuk bekerja, mari kita kelompokkan jenis pekerjaan para ibu.

Pertama, ibu bekerja paruh waktu, ibu bekerja full time, dan ibu bekerja wirawasta atau berdagang.

Ibu Menyusui Bekerja Paruh Waktu

Sekarang ini, ibu bekerja bukan hanya berstatus karyawan. Ada pula ibu yang bekerja dengan status freelanceArtinya dia bisa mengerjakan pekerjaan di mana saja, termasuk juga di rumah.

Banyak juga ibu muda yang bekerja freelance. Kendati bisa bekerja di rumah, namun sekali waktu mereka pergi ke luar rumah untuk urusan pekerjaan.

Untuk ibu bekerja paruh waktu  bisa dibilang paling fleksibel. Tidak ada office hours membuat ibu yang bekerja di luar rumah bisa leluasa mengatur waktu.

Namun demikian mereka harus pintar-pintar mengatur waktu, kapan harus bekerja dan kapan harus memerah ASI.

Hanya ibu lah yang mengetahui banyak sedikitnya pekerjaan dan kapan waktu senggang yang bisa dimanfaatkan untuk memerah ASI.

Sebetulnya ibu yang bekerja paruh waktu ini memiliki peluang untuk memberikan ASI secara langsung. Tentu saja berbeda antara menyusui secara langsung dengan menggunakan botol.

Adanya interaksi antara ibu dan si kecil tentu akan membuat ikatan batin semakin kuat.  

Namun di beberapa situasi seringkali ibu yang bekerja paruh waktu perlu keluar rumah untuk rapat atau bertemu dengan klien.

Nah,jika demikian tentu dibutuhkan stok ASIP di lemari es, untuk diberikan kepada si bayi.

Ibu yang bekerja paruh waktu, bisa memerah ASI di saat tidak ada pekerjaan atau mendahulukan memerah ASI baru melakukan pekerjaan.

Sangat fleksibel. Memerah bisa tergantung kenyamanan si ibu,karena faktor kenyamanan dan pikiran juga bisa berpengaruh ke produksi ASI.

Ibu Menyusui Bekerja Full Time

Tipe ini paling sering menimbulkan pro kontra.  Ada pendapat yang mengatakan bahwa jika sudah memiliki anak sebaiknya ibu tidak bekerja di luar rumah.

Namun kondisi setiap orang tidaklah bisa disamakan. Ada pula yang menyarankan untuk memberikan susu formula sebagai pengganti ASI.

Bagi mereka yang pro-ASI tentu menolak opsi ini dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi si anaknya.

Ada banyak jenis pekerjaan ibu yang bekerja fulltime. Untuk mereka yang bekerja di kantor, barangkali bisa melipir sejenak di sela pekerjaan untuk memerah ASI.

Lain halnya dengan mereka yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, pramunaiaga, atau pramusaji yang lebih sulit mengatur waktu ketimbang pekerja kantoran.

Bagi mereka yang bekerja fulltime butuh persiapan ekstra ketimbang ibu bekerja separuh waktu, ibu rumah tangga, atau ibu wiraswasta.

Masa cuti yang diberikan oleh perusahaan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk saling mengenal antara ibu dan bayi sekaligus menjaga produksi ASI agar tetap maksimal kendati sudah mulai bekerja.

Dukungan dari tempat bekerja juga diperlukan, lho.  

Sekarang ini sudah banyak perusahaan yang menyediakan ruangan khusus bagi mereka yang ingin memerah ASI atau yang disebut ruang Laktasi.

Nah, jika ada ruangan tersebut di perusahaan tentu akan lebih memudahkan dan tentu saja membuat nyaman ibu menyusui.

Selain itu dukungan dari teman kerja satu tim juga diperlukan.

Ibu menyusui pasti butuh waktu sejenak untuk memompa ASI. Jika tidak dikomunikasikan terlebih dahulu dengan rekan kerja, bisa jadi akan menimbulkan masalah sesudahnya.  

Komunikasi itu penting, agar si ibu juga tenang ketika meninggalkan pekerjaan sejenak untuk memompa ASI.

Ibu bekerja kantoran juga harus disiplin ketika memompa ASI.

Jika sudah saatnya memompa sebaiknya segera dilakukan. Tujuannya agar produksi ASI tetap terjaga dan kebutuhan ASI si kecil terpenuhi.

Selain itu, ibu bekerja full time juga harus optimis kalau mereka bisa memberikan ASI full, kendati disibukkan dengan pekerjaan.

Ibu Menyusui yang Wiraswasta

Hampir sama dengan pekerja paruh waktu,  ibu yang bekerja di sektor bisnis pun punya kendali waktu. Apalagi jika usaha yang dijalani adalah milik sendiri.

Artinya si ibu punya kewenangan penuh, waktu untuk bekerja dan untuk mengurusi si kecil.

Ibu wiraswasta memiliki tantangan bagaimana mengatur waktu agar semuanya bisa berjalan dengan baik.

Terlebih lagi jika usaha yang dilakoni makin berkembang. Otomatis agenda mereka pasti makin padat dan merayap.

Tentu ini menjadi tantangan bagaimana mereka tetap mengurusi usaha dan memberikan ASI kepada si bayi.

 Apalagi jika pekerjaan mereka berdagang di pasar misalnya, jika si bayi diajak pasti harus mensiasati dengan memberikan tempat yang nyaman untuk tidur dan memberikan ASI kepada bayi.

Beda Pekerjaan, Beda Tantangan, Beda Siasat

Setiap ibu pasti punya cerita sendiri tentang memberikan ASI kepada anaknya.

Suatu cerita Fita, seorang ibu muda yang bekerja di bank.

Semasa hamil dia harus berjauhan dengan sang suami. Fita di Kisaran, Sumatera Utara dan sang suami di Jakarta.

Sampai masa melahirkan tiba, Fita memutuskan untuk melahirkan di kota kelahirannya, Jakarta. Setelah melahirkan Fita bingung, untuk membawa si kecil ke Kisaran rasanya tidak mungkin.

Pertama perjalanan jauh yang harus ditempuh dari Medan ke Kisaran tidak kondusif untuk bayi yang belum genap tiga bulan.

Belum lagi Fita masih tinggal di rumah kos, yang sangat tidak mungkin membawa bayi.

Faktor lain adalah, dengan siapa si bayi jika Fita bekerja?

Akhirnya Fita menitipkan si bayi di rumah mertuanya, di Tegal.  

Lalu bagaimana siasat Fita untuk memberikan ASI?

Sepekan sekali Fita terbang ke Jakarta, sang suami siaga menjemput di bandara dan langsung berkereta api ke Tegal untuk mengantarkan stok ASI untuk si kecil.

Sekali waktu, Fita tak mungkin untuk pulang. Sang suamilah yang datang ke Medan untuk menjemput ASI dan langsung membawa ke Tegal.  

Siklus seperti itu terus berlangsung selama empat bulan sampai akhirnya Fita ditempatkan di Lampung dan bisa membawa si kecil ikut serta.

Ongkos yang dikeluarkan memang besar, namun ini tetap harus dilakukan agar Fita tetap bisa bekerja dan kebutuhan ASI si kecil terpenuhi.

Tantangan yang sungguh berat, mengantarkan ASI bukan hanya lintas kota, namun lintas propinsi bahkan lintas pulau.

Beruntung mereka yang bekerja namun masih tinggal di kota yang sama. Itu sebabnya beda pekerjaan beda pula tantangan dan cara mensiastinya.

Nah, berikut ini adalah tips yang bisa dilakukan ibu bekerja apapun jenis pekerjaannya agar dapat memberikan hak ASI kepada buah hatinya.

Tips Jitu Sukses Menyusui untuk Ibu Bekerja

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk tetap memenuhi kebutuhan ASI dan menyelesaikan pekerjaan.

Ini bukan harga mati, karena setiap orang memiiki pengalaman yang berbeda.

Tips berikut hanyalah gambaran umum, jika tidak sesuai silakan abaikan saja.

  • Menjalin Komunikasi dengan Rekan Kerja

Ibu bekerja pastilah butuh waktu beberapa menit untuk memompa ASI. Artinya dia harus meninggalkan pekerjaan sejenak untu memompa.

Awal masuk bekerja kamu bisa mengkomunikasikan hal ini kepada rekan satu tim. Kamu bisa menceritakan kondisi kamu.

Jika sepakat, maka kamu akan bisa memompa ASI lebih tenang dan nyaman. Kamu juga bisa mengatur waktu bagaimana agar pekerjaan selesai dan aktivitas memompa ASI tetap berjalan.

  • Bikin Jadwal Memompa

Buatlah sendiri jadwal memompa selama di kantor. Misal pagi, setelah makan siang, dan sore hari.  

Sekali waktu pekerjaan tidak mungkin ditinggal. Agar stok terpenuhi, kamu bisa mengganti jadwal memompa di waktu yang lain, misal dalam perjalanan pulang ke rumah atau ketika menunggu jemputan tiba.

Jadwal memompa ini juga tetap bisa dilakukan kendati sedang libur. Selain untuk menambah stok ASI selama ditinggal bekerja.

Jadwal memompa tersebut juga dilakukan dengan disiplin. Artinya tidak ditinggal atau dirapel.

Semakin sering menyusui atau memompa maka produksi ASI akan semakin banyak.

Menunda memompa bukan berarti menjadikan stok ASI akan lebih banyak. Jadwal bisa dilewatkan jika pekerjaan sudah benar-benar tdak bisa ditinggalkan.

  • Berpikir Positif

Salah satu kunci produksi ASI tetap lancar adalah berpikir positif dan menjauhkan diri dari stress. Jangan khawatir produksi ASI akan habis.

Teruslah memompa dan menyusui secara langsung. Jika ibu berpikir positif maka si bayi akan bisa menyesuaikan diri dan memiliki cara sendiri untuk menyusui.  

Selama menyusui ada baiknya menjauhkan diri dari stress.

Hal ini memang susah dilakukan apalagi jika pekerjaan menumpuk.

Kamu bisa refrshing sejenak misal mendengarkan lagu yang kamu suka, melihat-lihat foto anak, atau membaca tulisan yang menyegarkan pikiran.

Sederhana akan tetapi cukup bisa membuat hati nyaman, senang, dan tenang. Pikiran yang tenang dan jauh dari stress akan memacu diri sendiri untuk terus rajin memompa ASI.

Bisa juga dengan menghitung jumlah ASI yang didapat. Semakin banyak tentu akan semakin semangat.

Jika sedang sedikit, jangan berkecil hati. Berpikir positif bahwa produksi ASI bisa bertambah esok hari.

  • Menjaga Asupan Makanan

Penting bagi ibu menyusui untuk mengkonsumsi makanan sehat. Menghindari makanan berpengawet dan banyak mengkkonsumsi air puth.

Jika sedang bekerja seringkali lupa untuk mengkonsumsi air putih.

Sediakanlah satu botol berukuran besar dan gelas di meja kerja sehingga tidak perlu bolak balik untuk mengambil minum.

Untuk makanan, sebaiknya membawa bekal dari rumah.

Selain lebih hemati bekal dari rumah sudah dijamin higienis. Selain itu, mengkonsumsi cukup buah dan sayur yang mengandung asam folat dan vitamin yang mendukung kelancaran ASI.

Selain itu rutin mengkonsumsi makanan yang bisa menjadi booster ASI seperti kacang hijau, dan sayuran lainnya.

  • Memakai Pakaian yang Mendukung

Semasa menyusui pastilah sering membuka tutup pakaian. Jika sedang bekerja di kantor, sebaiknya mengenakan pakaian yang berwarna gelap atau bermotif banyak.

Ini untuk menjaga apabila ada noda yang menempel di pakaian. Sekarang ini sangat banyak dijual pakaian dengan caption ‘busui friendly.

Pakaian yang demikian juga memudahkan Anda ketika memompa atau menyusui secara langsung.

Selain itu bisa juga mengenakan pakaian dalam khusus menyusui. Pakaian dalam tersebut memudahkan ketika memompa karena bisa sembari melakukan pekerjaan lainnya.

Cara lain adalah dengan mengenakan scraft yang menutupi bagian dada, agar tidak terlihat jiika terdapat noda atau bekas memompa.

  • Memberi Identitas pada Botol ASIP

Bisa jadi  ada lebih dari satu ibu menyusui di kantor. Setelah memompa tentu akan menyimpan ASIP mereka di kulkas yang sama sebelum dibawa pulang.

Jika demikian, berilah identitas nama bayi, nama ibu, dan waktu menyusui.

ASI hasil pompa juga tidak bisa dibiarkan terlalu lama di kulkas, sehingga harus diketahui kapan ASI tersebut dipompa.

Alternatif lain adalah menggunakan cooler bag sehingga tidak perlu diberi nama. Cukup diberi label kapan ASI tersebut dipompa.

  • Persiapkan Kebutuhan Memompa

Selain botol kaca dan alat pompa, ada beberapa item yang tidak boleh tertinggal.

Sebagai contoh, sikat untuk membersihkan botol dan alat pompa, tisu basah dan tisu kering, bra cadangan, ice gel, beberapa botol kosong (jika tidak  bisa diganti dengan kantung ASI), dan suplemen tambahan yang dibutuhkan.

Jangan lupa juga memeriksa stok ASIP di rumah, untuk mengetahui berapa jumlah kekurangan yang dibutuhkan si kecil.

Tas untuk menyimpan ASIP ini sebaiknya tidak sama dengan tas untuk menyimpan peralatan si kecil.

Tips tersebut bisa dipraktikkan dan tentu saja disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu menyusui. Selain tips di atas dukungan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan.

Bukan hanya pada tim kerja di kantor akan tetapi juga dukungan suami dan keluarga. Kerjasama yang baik antara suami, ibu, dan barangkali pengasuh di rumah sangat diperlukan.

Ketika masa awal belajar memompa, biasanya ibu membutuhkan suasana yang tenang dan nyaman.

Pada kondisi seperti itulah diperlukan kerjasama suami, anggota keluarga lain, atau pengasuh untuk menjaga si bayi. Tempat kerja yang kondusif juga diperlukan oleh ibu menyusui.

Demikian pula ketika memompa di rumah. Ada baiknya ketika memompa di rumah dilakukan setelah si bayi menyusu langsung.

Jangan pikirkan banyak sedikitnya ASI yang didapat, yang terpenting aktivitas memompa rutin dilakukan. 

Paling penting dan harus diingat adalah bagaimana mengelola pikiran jauh dari stress, mengontrol emosi, dan berada dalam kondisi yang nyaman dan tenang.

Hal ini diperlukan untuk mejaga kualitas dan produksi ASI bagi ibu menyusui yang bekerja.

Happy breastfeeding.